
Gubernur Bank of Thailand, Sethaput Suthiwartnarueput, menyampaikan kekhawatiran serius terkait rencana legalisasi kasino di Thailand. Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi memperluas ekonomi abu-abu dan mengancam stabilitas ekonomi negara.
Dalam sebuah pengarahan ekonomi baru-baru ini, Sethaput menekankan bahwa memasukkan kasino ke dalam sektor formal bisa mempersulit penegakan hukum dan melemahkan tata kelola—terutama di tengah tantangan struktural dan pemulihan ekonomi yang lambat. Ia menyatakan bahwa keputusan seperti ini harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, mengingat kredibilitas fiskal Thailand kini tengah diawasi ketat oleh komunitas global.
Pernyataannya muncul saat pemerintah terus membahas rencana pembangunan kompleks hiburan terpadu yang mencakup kasino. Para pendukung kebijakan ini berargumen bahwa proyek tersebut dapat menarik wisatawan dan investasi. Namun, Sethaput menilai bahwa risiko jangka panjang—seperti peningkatan pencucian uang dan lemahnya pengawasan—berpotensi lebih besar daripada keuntungan finansial jangka pendek. Ia menambahkan bahwa hal ini juga bisa mengurangi kepercayaan investor dan menghambat momentum reformasi.
Mengenai prospek ekonomi Thailand, Sethaput menggambarkannya sebagai pemulihan berbentuk “V” yang terbentuk lambat. Ia menyebut tekanan eksternal seperti ketegangan dagang AS-Tiongkok dan kelemahan dalam sektor pariwisata, manufaktur, serta usaha kecil sebagai penyebab keterlambatan. Menurutnya, pemulihan penuh kemungkinan baru akan terjadi pada 2026.
Alih-alih mengandalkan stimulus jangka pendek seperti pembagian uang tunai atau kebijakan populis, Sethaput mendesak pemerintah untuk fokus pada reformasi struktural. Ini mencakup peningkatan kemudahan berusaha, menarik investasi asing langsung, dan mendorong peralihan ke industri bernilai tambah. Ia juga kembali menyuarakan penolakannya terhadap skema dompet digital, dengan alasan bahwa kebijakan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan ekonomi Thailand.
Sethaput turut menanggapi penurunan prospek kredit Thailand oleh Moody’s. Ia mengakui bahwa pengamat internasional kini semakin menyoroti kekuatan institusi Thailand dan komitmen pemerintah terhadap tata kelola ekonomi yang sehat.




