
Organisasi olahraga di seluruh Selandia Baru menentang RUU Kasino Perjudian Online yang diusulkan. Mereka memperingatkan bahwa rancangan undang-undang ini bisa memangkas pendanaan penting untuk olahraga lokal.
Hibah Komunitas Terancam
Lebih dari selusin organisasi olahraga nasional dan regional telah bersatu untuk menentang RUU tersebut. Mereka berpendapat bahwa operator perjudian online yang nantinya memiliki lisensi mungkin tidak lagi diwajibkan memberikan dana hibah kepada komunitas. Padahal, banyak program olahraga lokal sangat bergantung pada dana hibah ini.
Selain itu, mereka mengklaim bahwa pemerintah tidak berkonsultasi dengan sektor olahraga komunitas sebelum melanjutkan legislasi ini. Padahal, sektor ini sudah menghadapi kesulitan dalam mencari sponsor.
Aksi Kolektif untuk Dampak Lebih Besar
Dengan bersatu, organisasi-organisasi ini berharap bisa menyuarakan kekhawatiran mereka secara lebih efektif kepada para pejabat pemerintah. Mereka ingin mencegah penurunan dukungan terhadap olahraga usia muda sebelum RUU ini diberlakukan sepenuhnya.
“Kami khawatir terhadap dampaknya pada atlet muda dan pengembangan olahraga akar rumput,” kata salah satu perwakilan. “Pemerintah perlu mendengarkan sebelum kerusakan jangka panjang terjadi.”
Pemerintah Tetap Melanjutkan
Meski begitu, RUU ini telah lolos pembacaan pertama pada pertengahan Juli, dengan 83 suara setuju dan 39 suara menolak. Menteri Urusan Dalam Negeri, Brooke van Velden, mengajukan RUU ini dengan tujuan “melindungi warga Selandia Baru yang menikmati perjudian online melalui penerapan langkah-langkah keamanan yang ketat bagi operator berlisensi.”
Tahap Selanjutnya
Dalam draf saat ini, RUU tersebut akan melelang hingga 15 lisensi perjudian online, masing-masing berlaku selama tiga tahun. Proses lelang ini diperkirakan akan dimulai pada tahun 2026.
Sementara perdebatan berlanjut, para pemimpin olahraga mendesak anggota parlemen untuk merevisi RUU ini agar bisa menemukan keseimbangan antara regulasi perjudian dan dukungan terhadap komunitas.




