
Spribe berhasil memperoleh penetapan larangan sementara dari Pengadilan Tinggi Inggris dalam sengketa hak cipta dengan Aviator LLC. Putusan ini melarang Aviator meluncurkan game crash serupa di Inggris sebelum kasus ini disidangkan. Sidang dijadwalkan akan berlangsung pada akhir 2026 atau awal 2027.
Meskipun Aviator mengakui bahwa kemungkinan besar tidak akan meluncurkan produknya sebelum sidang—dengan alasan perlu mendapat persetujuan dari British Gambling Commission—Hakim Anthony Mann tetap mengabulkan permohonan larangan tersebut. Kemenangan hukum ini memberikan keuntungan strategis bagi pengembang game tersebut dalam pertempuran hak cipta yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, Aviator memenangkan gugatan hukum di negara asalnya, Georgia. Di sana, Aviator mengklaim bahwa versi game Aviator dari Spribe melanggar hak cipta dan merek dagangnya. Pengadilan memihak Aviator, dan penyelesaian juga dicapai dengan Flutter, yang mendistribusikan versi pesaing tersebut.
Di Inggris, Aviator mengajukan gugatan pelanggaran hak cipta awal tahun ini. Mereka berargumen bahwa desain Spribe, terutama penggunaan citra pesawat dan branding, sangat mirip dengan karya asli Aviator. Aviator juga menentang upaya Spribe untuk mendaftarkan merek dagang “Aviator.”
Sebagai tanggapan, pihak yang dituduh mengajukan kontra-gugatan pada bulan April. Perusahaan tersebut berpendapat bahwa Aviator berusaha memanfaatkan reputasi baik yang sudah dibangun di sekitar merek tersebut. Selain itu, mereka mengklaim Aviator mencoba menyesatkan pengadilan dengan menyembunyikan keterlibatannya di balik jaringan entitas lisensi yang berubah-ubah.
Pertarungan hukum ini menyoroti ketegangan yang meningkat di sektor game crash yang berkembang pesat, di mana identitas merek dan orisinalitas menjadi faktor kompetitif utama.
Spribe diwakili oleh Bird & Bird, sedangkan Aviator diwakili oleh Hogarth Chambers.




