
Terburu-buru Mengatur Sebelum Peluncuran Melco
Sebuah lembaga think tank kebijakan di Sri Lanka menyuarakan kekhawatiran terkait independensi dan integritas rencana pembentukan regulator judi baru di negara itu. Pemerintah dinilai terburu-buru mendirikan lembaga tersebut menjelang peluncuran City of Dreams Sri Lanka milik Melco Resorts & Entertainment bulan depan.
Sudaraka Ariyaratne, Konsultan Riset di Advocata Institute, mengatakan kepada media lokal The Sunday Times bahwa meskipun pendirian regulator penting bagi stabilitas industri dalam jangka panjang, Rancangan Undang-Undang Otoritas Regulasi Perjudian yang direncanakan dinilai kurang memiliki independensi yang diperlukan untuk memastikan pengawasan yang layak.
“Kalau dilihat dari teori regulasi, sangat jelas bahwa regulator harus menjadi badan independen yang memberi kredibilitas,” kata Ariyaratne. “Tapi itu tidak terjadi dalam RUU Otoritas Perjudian ini. Saya rasa pemerintah berusaha memaksakan pengesahan RUU ini karena Melco akan datang bulan depan. Kami pikir Melco pasti menginginkan ada regulator. Untuk nama besar di industri judi, integritas pasar adalah pertimbangan besar, mengingat citra industri secara keseluruhan. Mereka perlu menjaga reputasi baik agar bisa menarik pelanggan berkualitas yang peduli soal integritas.”
Kekhawatiran soal Kendali Menteri
Ariyaratne, yang menegaskan bahwa Advocata mendukung sektor perjudian yang legal dan teregulasi, berpendapat bahwa Otoritas Regulasi Perjudian yang diusulkan berisiko menjadi kepanjangan tangan Menteri Keuangan negara itu.
“Bahkan kalau bukan regulator yang benar-benar independen, selama masih memberi persepsi integritas, itulah yang dicari [para operator] untuk membangun kepercayaan pasar,” ujarnya. “Bahaya RUU ini adalah, bahkan persepsi integritas pun tidak ada, jika Menteri Keuangan bisa melakukan apa saja sesukanya.”
Perbandingan dengan Standar Emas Singapura
Dalam analisisnya, The Sunday Times membandingkan RUU Otoritas Perjudian Sri Lanka dengan undang-undang perjudian Singapura yang sudah mapan dan diakui sebagai tolok ukur industri. Surat kabar itu menyimpulkan bahwa meskipun RUU Sri Lanka merupakan langkah positif dan perlu menuju sistem regulasi modern yang terpusat, isinya masih sangat mendasar dibandingkan kerangka regulasi Singapura yang komprehensif dan berlapis-lapis.
Menurut The Sunday Times, kelemahan utama dalam RUU tersebut meliputi:
- Lemahnya ketentuan independensi regulator
- Kriteria kelayakan operator yang masih kabur
- Kurangnya alat pencegahan dampak sosial, seperti sistem pengecualian (self-exclusion) yang komprehensif
- Kewenangan teknologi yang ketinggalan zaman untuk mengontrol perjudian daring
Selain itu, The Sunday Times mencatat bahwa RUU ini tampak lebih berfokus pada promosi ekonomi dan pengumpulan pendapatan, ketimbang pengawasan ketat dan perlindungan sosial yang menjadi landasan hukum perjudian di Singapura.
Seruan untuk Kerangka Hukum yang Lebih Kuat
Ariyaratne mendesak parlemen agar menarik kembali RUU saat ini dan mengajukan versi yang lebih komprehensif, yang mampu memenuhi standar internasional sekaligus menumbuhkan kepercayaan pasar dan perlindungan sosial.
Sementara itu, Melco tengah bersiap menggelar seremoni pembukaan resmi City of Dreams Sri Lanka, yang berlokasi di gedung Cinnamon Life di Kolombo, pada 2 Agustus mendatang.




